MA'HAD ISLAM TERPADU AL- KHAIRIYYAH, SEKOLAH DAN PONDOK PESANTREN.....................DENGAN MOTTO: BERILMU AMALIYAH - BERAMAL ILMIYAH - MENJAGA UKHUWWAH ...........................YAYASAN MIT ALKHAIRIYYAH KARAWANG MENERIMA SEGALA BENTUK DONASI YANG HALAL DAN TIDAK MENGIKAT; MELALUI BANK JABAR . No. Rekening : 0014732411100 atas nama : Pondok Pesantren Al-Khairiyyah Karawang...........................Facebook: khaeruddin khasbullah.....

SEPUTAR AL-KHAIRIYYAH (facebook:: https://www.facebook.com/khaeruddin.khasbullah)

Minggu, 10 Juli 2016

BAGAIMANA MENYIKAPI HADIST MAUDHU'/PALSU

 BAGAIMANA MENYIKAPI HADIST MAUDHU'/PALSU
Oleh: H.Khaeruddin Khasbullah



عَنْ أَبِي هُرَيْرَة قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَده مِنْ النَّار  . متفق عليه"


DARI ABI HURAIROH RA,
NABI MUHAMMAD SAW BERSABDA: “BARANG SIAPA MEMBUAT DUSTA ATAS NAMAKU SECARA SENGAJA, MAKA SEBAIKNYA IA SIAPKAN TEMPATNYA DINERAKA”. HR. BUKHORY DAN MUSLIM.

I. Status Hukum Hadist Palsu.

1- Hadist yang isinya dusta dan tidak berasal dari Nabi disebut hadist MAUDHU’/ PALSU”, dan sebenarnya tidak pantas disebut hadist.

2- Semua hadist maudhu’ tak boleh dipakai dan tak boleh diamalkan. 

3- Haram/ dosa besar hukumnya menyebarkan atau menyampaikan hadist palsu bagi yang tahu, kecuali dengan menyebutkan bahwa hadist tersebut palsu. Syekh Mahfudh Termas*) dalam kitab “master piece” nya “Manhaj Dzawin Nadhor” padahalaman 89, ketika mensyarahkan “Alfiyah” Ilmu Atsarnya Imam Suyuthi menyatakan  demikian:

(وذكره) أي الموضوع (لعالم به) أي بكونه موضوعا (احظر) أي امنعه,فتحرم روايته مع العلم به (في أي معنى كان) سواء الاحكام والقصص والترغيب وغيرها (إلا واصفا لوضعه) ببيان أنه موضوع, لحديث مسلم:" من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكذابين" بخلاف غيره من ألأحاديث الضعيفة التي يحتمل صدقها في الباطن, حيث جازت روايتها في الترغيب والترهيب على ما سيأتي (محفوظ الترمسي: منهج ذوي النظر .89) 

(Dan menyebutkannya / menyiarkan) hadist MAUDHU’ bagi yang tahu palsunya, maka hendaklah jangan dilakukan. Maka harom meriwayatkan hadist maudhu’ kalau dia tahu tentangnya dalam segala bentuknya seperti dalam bentuk hukum atau kisah/ ceritera, bentuk anjuran atau bentuk lainnya, kecuali ia menyebutkan bahwa hadist tersebut palsu, berdasarkan sabda Nabi riwayat Imam Muslim: “Barang siapa menyiarkan dariku suatu hadist dan ia tahu bahwa hadist itu palsu, maka ia termasuk salah satu dari pembohong”. Berbeda dengan hadist DHO’F (lemah) karena ia masih mengandung kemungkinan kebenaran dalam kandungannya, maka boleh meriwayatkannya untuk motivasi dan menakut- nakuti (الترغيب والترهيب), seperti akan dijelaskan nanti”. (Syekh Mahfudh Tremas (Pacitan): Manhaj Dzawin Nadhor 89).

Maka berbeda dengan hadist DHOIF yang tingkat kedhoifan nya bisa berbeda- beda dari yang paling ringan sampai berat, dimana pada yang dhoif ringan (karena rowinya Tsiqot /sholeh/ bisa dipercaya, dan isinya tidak bertentangan dengan makna Al- Qur’an dan tidak bertentangan dengan kandungan hadist lain yang kuat, dimana masalah kedhoifannya mungkin hanya karena daya hafalan rowinya kurang), dapat dipakai untuk motivasi FADHOILUL A’MAL, namun tidak boleh untuk menentukan halal- harom. Sedang pada hadist Dhoif berat, maka ia harus ditinggalkan, misalnya karena rowinya fasik/ banyak dosa/ munkar atau matruk. (Lihat Manhaj Dzawin Nadhor halaman 96).

Masalahnya adalah, sekarang ini terlalu banyak hadist yang berderajat palsu yang beredar, sehingga tanpa sadar, sering kita ikut menyiarkannya. Oleh karena itu sangat penting bagi para muballigh agar lebih hati- hati dalam memilih hadist yang akan disampaikannya, jangan sampai ikut- ikutan menyebarkan hadist palsu. Semoga Alloh mengampuni akan ketidak tahuan kita.

II. Tanda- tanda Utama Hadist Palsu.

Ada banyak tanda- tanda hadist palsu. Silahkan lihat disini: http://ijtehadat.com/subjects/alislam%20%2812%29.html

Salah satunya yang gampang dilihat adalah: Terlalu berlebihan tentang suatu pahala atau siksa yang diberikan kepada suatu amalan yang sedikit, atau melebih- lebihkan pahala suatu amalan seseorang menyamai atau melebihi pahala yang didapat oleh seorang Nabi.

Syekh Mahfudh Tremas menyatakan:
(و) إما أنه (ما به) أي خبر فيه (وعد عظيم) جدا (أو) فيه (وعيد) شديد كما يأتي أخر البيت . وقوله (على) فعل (حقير)من الأعمال راجع للوعد. وقوله (و) على (صغيرة) من الذنوب راجع للوعيد (شديد).....الخ.
(منهج ذوي النظر 90.)

Contoh hadist yang memiliki tanda- tanda ini ialah seperti tertulis: 

وفي الليلة الثامنة (من رمضان) أعطاه الله تعالى ما أعطى إبراهيم عليه السلام

“…….dan pada malam kedelapan dari bulan Romadhon, Alloh akan memberikan padanya seperti yang telah Alloh berikan kepada Nabi Ibrohim AS………”. Bagaimana bisa seorang mukmin biasa berpuasa tujuh hari sudah bisa mendapatkan pahala senilai pahala yang diberikan kepada Nabi Ibrahim?..... Wallohu a’lam.
--------------------------------------------
Syekh Mahfudh Termas*) adalah seorang Ulama Indonesia kelahiran desa Tremas, Pacitan, Jawa Timur yang mendunia, Kitabnya yang berjudul Manhaj Dzawin Nadhor Syarah Alfiyah As- Suyuthi sampai sekarang menjadi rujukan bagi para mahasiswa kuliah Ilmu Hadist diseluruh dunia. Lahir pada tanggal 12 Jumadi Al Ula 1285 H. Lihat riwayat hidup beliau disini: 

Selasa, 10 Mei 2016

SANAD AL- QUR’AN KH. DACHLAN SALIM ZARKASYI, PENCIPTA METHODE QIRA'ATI




SANAD AL- QUR’AN KH. DACHLAN SALIM ZARKASYI, 
PENCIPTA METHODE QIRA'ATI



Dalam buku “PAK DACHLAN, Pembaharu & Pendiri TK Al Qur’an karya Drs Abu Bakar Dachlan pada halaman 127 terpampang foto dengan judul: Ayah bersama dengan guru, KH Abdullah Umar (berjabatan tangan).

Siapakah KH Abdullah Umar yang disebutkan sebagai guru dalam buku tersebut?
Beliau adalah seorang ulama dan hafidz Al- Qur’an dari Semarang, pendiri dari Pondok Pesantren  Tahfidzul Qur’an di Semarang, Jawa Tengah. KH. Abdullah Umar yang isterinya juga kemudian menjadi pengasuh para santri wanita hafidz Al Qur’an dan yang semua anak-anaknya juga hafidz Al Qur’an itu, meninggal dalam usia 72 tahun pada hari Jum’at 21 Dzulhijjah 1421 (16 Maret 2001).
KH. Abdullah Umar adalah salah satu murid dari KH. Arwani Kudus
Sebut saja diantara murid-murid KH. M. Arwani Amin yang menjadi ulama adalah:
1) KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus)
2) KH. Hisyam (Kudus)
3) KH. Abdullah Salam (Kajen)
4) KH. Muhammad Manshur
5) KH. Muharror Ali (Blora)
6) KH. Najib Abdul Qodir (Jogja)
7) KH. Nawawi (Bantul)
8) KH. Marwan (Mranggen)
9) KH. A. Hafidz (Mojokerto)
10) KH. Abdullah Umar (Semarang)
11) KH. Hasan Mangli (Magelang)

Sanad KH. Abdullah Umar.
Inilah sanad KH Abdullah Umar  melalui KH Arwani Kudus dan KH Moenawir Krapyak, yang juga berarti sanad dari beliau KH. Dachlan Salim Zarkasyi sampai kepada Rasululloh SAW.
31- كياهي الحاج دخلان ساليم زركشي
30- عن الشيخ عبد الله عمر السمراني
29- عن الشيخ أرواني الكدسي
28- عن الشيخ منور الكرافيائ
27- عن الشيخ عبد الكريم ابن الحاج عمر البدري
 26- عن الشيخ اسماعيل
 25- عن الشيخ احمد الرشدي
 24- عن الشيخ  مصطفى ابن عبد الرحمن ابن محمد الازمري
 23- عن الشيخ احمد الحجازي
 22- عن الشيخ علي ابن سليمان ابن عبد الله ابن المنصوري
 21- عن الشيخ سلطان ابن احمد ابن اسماعيل المزحي المصري
20- عن سيف الدين بن عطاء الله الفضالي
19- عن الشيخ الشحاذة اليَمَنِي
18- عن الشيخ ناصرالدين ابن سليم ابن علي الطبَلاوي
17- عن شيخ الإسلام ابو يحيى زكريا الأنصاري
16- عن الشيخ شهاب الدين أحمد ابن الاسد  الشافعي
15- عن الحافظ المحقق محمد الجزري
14- عن ابي عبد الله محمد بن احمد بن عبد الخالق المصري الشافعي
13- عن ابو الحسن علي ابن شجاع ابن سليم الهاشمي المصري
12- عن الإمام الشاطبي
11- عن أبِي الحسن علي بن هُذيل
10- عن أبي داود سليمان ابن النجاح
9- عن الحافظ ابو عَمْروعثمان ابن سعيد الدّاني
8- وهو عن أبي الحسن طاهر ابن غلبون المقرئ
7- عن عبد العباس احمد بن سهل الاشناني
6- عن ابو محمد عبيد الصباح ابن ابي شريح الكوفي 
5- عن  عمر حفص بن سليمان ابن المغيرة الاسدي الكوفي
4- عن عاصم ابن أبي النجود الكوفي
3- عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن حُبيب ابن ربيعة السُلَمي الكوفي
2- عن عثمان بن عفان – عن علي – عن عبد الله بن مسعود-  عن أُبيّ  بن كعب
1- عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو تلقى القرأن الكريم عن جبريل الأمين رسول رب العالمين

Syekh Munawir Krapyak, Syekh Mahfudz Termas dan Syekh Makmun ternyata tunggal sanad.
Jika diteliti lebih lanjut, sanad tersebut akan bertemu dengan sanad KH. Hanan Sa’id murid KH. Sholeh Makmun Al- Bantani (Guru Ulama- Ulama Al- Qur'an Jawa Barat) pada mata rantai ke 21, yakni Syekh Sulthon Al-Muzakkhy, Sedang Syekh Makmun Al- Bantany ternyata tunggal guru dalam ilmu Al- Qur’an dengan Syekh Mahfudz At- Turmusy, yakni berguru kepada Syekh Syarbiny asli Mesir yang tinggal di Mekah, beliau adalah Ahli Qiro’at dan Fikih Madzhab Syafi’i.
Jadi KH. Moenawir Krapyak sanadnya bertemu dengan Syekh Mahfudz At- Turmusi juga pada mata rantai ke 21, yakni Syekh Sulthon Al-Muzakkhy sebagaimana dengan Syekh Makmun Al- Bantany.

Namun dilapangan, Syekh Mahfudz At- Turmusy kemudian lebih menitik beratkan ilmu hadist ketimbang ilmu (tilawah) Al- Qur’an, karena memang beliau memiliki sanad keguruan dalam ilmu hadist sampai kepada para imam Ahlul Hadist. 

Catatan: KH. Moenawir ternyata pernah juga berguru kepada Syekh Syarbiny, berarti tunggal guru dengan Syekh Mahfudz At- Turmusy dan Syekh Makmun Al- Bantany juga.
Wallohu a’lam.

Kepada para Allaamah, Mohon koreksi bila ada urutan atau penyebutan nama yang salah atau tidak sesuai. Syukron

Ibn Khasbulloh, GPI, Purwasari, Karawang, 10- Mei- 2016

Sumber:
1- Abu Bakar Dachlan, Pak Dachlan, Pembaharu & Bapak TK Al- Qur’an.

Selasa, 26 April 2016

Posisi Hilal Sudah Tinggi, Masih Perlukah Rukyat dan Sidang Itsbat?



Posisi Hilal Sudah Tinggi, Masih Perlukah Rukyat dan Sidang Itsbat?



Seperti telah sering kita bahas, bahwa masalah perhitungan secara Hisab/ mathematics awal munculnya Hilal sudah lama selesai. Berdasarkan formula ilmu Astro Fisika, hasil akhir perhitungan munculnya Hilal hanya berbeda detik diantara para ahli hisab yang menghitungnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Muhammadiyyah, berdasar methode Wujudul Hilal telah menetapkan awal bulan Romadhon 1437 H jatuh pada Senin Pahing, 6- Juni- 2016. Begitu juga tanggal 1 Syawal telah ditetapkan jatuh pada  6- Juli- 2016. Alasannya karena pada Ahad malam Senin, 5- Juni – 2016 ketinggian hilal sudah diatas 4 derajat dan pada akhir Romadhon, Selasa 5- Juli- 2016 Hilal sudah 11 derajat

 Demikian pula Persis melalui sekretaris umumnya, Haris Mulim, LC, ke wartawan, Rabu (20/4/2016), walaupun mereka menggunakan kriteria Imkaanur Rukyat, bukan Wujudul Hilal sebagaimana Muhammadiyyah, mereka menganggap kriterianya sudah memenuhi syarat yang mereka tetapkan, yakni: (1) beda tinggi antara bulan dan matahari minimal 4 derajat dan (2) jarak sudut (elongasi) antara bulan dan matahari minimal 6,4 derajat.

Bagaimana Perhitungan Almanak Kudus/ NU?

Bandingkan dengan Almanak Menara Kudus (yang menjadi acuan kaum Nahdliyyin dan yang sepemikiran dengan kaum Nahdhiyyin), bahwa pada saat Maghrib, Ahad Manis malam Senin Pahing, 5 – Juni- 2016 itu tercatat:

Tinggi Hilal = 4˚ 09’ dalam pandangan mata di Jawa Tengah,
Posisi Hilal = 18˚,94 sebelah utara titik barat, sebelah selatan titik matahari terbenam dalam keadaan miring ke selatan.

Cahaya:  Hilal 0,43 inchi dan lamanya diatas ufuk = 23 menit.
Sedang saat maghrib,  pada Selasa Legi 5- Juli- 2016 Hilal sudah 11 derajat 35 menit diatas horizon. (Sehari sebelumnya Hilal masih minus 0 derajat 50’) dibawah ufuk, berarti hampir dipastikan 1 Syawal -1437 H akan jatuh pada Hari Rabo Pahing, 6- juli- 2016.

Melihat kenyataan demikian, berarti secara perhitungan astronomis, hampir semua Jama’ah besar Islam di Indonesia mendapatkan hari yang sama tentang awal bulan Romadhon 1437 H, yakni insya Alloh akan jatuh pada hari Senin Pahing, 6 Juni 2016). Begitu pula awal Syawal 1437 H yang akan jatuh pada RaboPahing 6- Juli- 2016.

Masih perlukah Rukyat dan sidang Itsbat?

Dalam pandangan Fikih, segala kemaslahatan ummat, wilayahnya ada ditangan Pemerintah (Ulil Amri) cq. Kementrian Agama, termasuk penentuan awal Romadhon, awal Syawal dan awal Dzul Hijjah.

Demikian juga berdasarkan tekstual hadist, Romadhon dan Syawal itu ditetapkan (Itsbat) oleh Nabi berdasarkan laporan sahabat yang telah dapat melihat (rukyat) Hilal. Masalah Puasa, Iedul Fithri maupun Iedul Adl- ha adalah masalah Ibadah, bukan masalah Science an sich. Maka nilai ibadah tertinggi adalah berdasarkan Itba’ Rasul. Apapun hasil ijtihad para cendekia, maka tetap nilai utamanya adalah mengacu kepada bahasa tekstual hadist yang menyatakan penetapan (Itsbat) bulan- bulan ibadah itu berdasar Rukyat, bukan berdasar Science. Maka, bagi mereka yang berpegang teguh pada ketentuan ini, seperti kaum Nahdliyyin dan yang selaras dengan mereka  seperti Jama’ah Perti, Jama’ah Rifa’iyyah, Jami’atul Wasliyyah, Jamia’t Khoer, Nahdhotul Wathon, dsb (dalam hal ini jama’ah Salafy juga biasanya menggunakan cara ini), mereka akan melakukan Rukyat (munggah/ naik ketempat yang tinggi) untuk berusaha melihat kemunculan/ ketidak munculan Hilal sebagai bentuk ibadah kepada Alloh. Hasil pengamatan dilapangan ini akan diserahkan kepada Ulil Amri, cq Kemenag RI untuk dibahas dan disidangkan kemudian di TETAPKAN / ITSBAT oleh bapak Menteri..
Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa penetapan awal bulan Ibadah seperti Romadhon dan bulan - bulan  ibadah lainnya dengan cara Hisab (Science) saja tidak dapat dijadikan pegangan  Karena masalah Ubudiyyah tidak sama dengan masalah Science.

Perbedaan antara  Penentuan Waktu Sholat dan Arah Qiblat dengan Penentuan awal Romadhon awal Syawal dan awal Dzul Hijjah.

Sering kali masyarakat bertanya- tanya, mengapa diantara para ulama tidak ada perselisihan tentang bolehnya  penentuan waktu sholat dan arah qiblat dilakukan dengan cara Hisab/ Matematics murni, sedang pada penentuan awal Romadhon dan awal Syawal sebagian besar ulama menyatakan harus memakai dasar Rukyat dan tidak cukup memakai Hisab Murni? Apa yang membedakannya?.

Ternyata ketika diteliti sumber dalil yang berkenaan dengan waktu- waktu ibadah tersebut diatas, ada perbedaan yang sangat mendasar, yakni:

- Pada penentuan waktu sholat, tidak ada satu teks pun  Qur'an atau hadist yang mennyatakan bagaimana CARA nya untuk menentukan waktu - waktu tersebut.

Dalam ٍSurat Al- Isro' ayat 78 tertulis:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78)

"Tegakkan sholat ketika matahari telah bergeser sampai gelapnya malam dan juga sholat fajar........"
Dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana caranya melihat matahari yang telah bergeser ataupun bagaimana caranya menentukan waktu telah malam atau telah fajar. Lihat pula hadist- hadist tentang masuknya waktu sholat.

- Begitu juga tentang arah qiblat, tidak ada satu ayat atau hadist pun yang menyatakan bagaimana caranya kita menghadap qiblat. Alloh berfirman dalam Al- Baqoroh 144:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

"Dan hendaklah kau hadapkan wajahmu ke arah Masjidil Harom. Maka dimanapun kalian berada, hadapkanlah wajah- wajah/ diri kalian kearah qiblat tersebut"....dalam ayat ini juga tidak dijelaskan bagaimana caranya untuk mencari arah qiblat.

Berbeda dengan Shoum Romadhon maupun Syawwal. Nabi menyatakan: "Berpuasalah kalian karena MELIHAT HILAL dan sudahilah shiyam karena MELIHAT HILAL..................". HR. Bukhory.

Dalam menentukan awal Dzul Hujjah Alloh berfirman dalam Al- Baqoroh  189 :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ

"Kalian bertanya tentang HILAL, katakanlah (wahai Muhammad), bahwa hilal itu penentu waktu- waktu bulan ibadah bagi manusia dan juga bulan HAJJI".

Oleh karena itu sebagian besar ulama kukuh berpegang pada hadist ini dengan menyatakan bahwa masuknya bulan Shiyam, Syawwal ataupun Dzul Hijjah harus berdasar Rukyat, sedang untuk menentukan waktu sholat atapun arah qiblat, boleh bebas menggunakan matematics murni atau dengan berbagai cara lainnya.




Wallohu a'lam.

Lihat pembahasanya disini:


 


Dalil- dalil:

1- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاثِينَ "
Dari Abi Hurairoh ra,Rasululloh saw bersabda: "Berpuasalah kalian ketika melihat Hilal (Romadhon), dan berbukalah kalian ketika melihat Hilal (Syawal). Jika Hilal tertutup atas kalian, maka hendaklah bulan itu kalian sempurnakan 30 hari". HR. Bukhory dan Muslim.

2- Al Qurthubi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
قال سهل بن عبد الله التستري: أطيعوا السلطان في سبعة: ضرب الدراهم والدنانير، والمكاييل والاوزان، والاحكام والحج والجمعة والعيدين والجهاد.
Sahal bin Abdullah at-Tastari berkata : Taatlah kamu kepada penguasa dalam tujuh perkara : di dalam penentuan mata uang yang sah, di dalam takaran, di dalam timbangan, di dalam hukum, di dalam haji, di dalam shalat jum’at, dan di dalam dua hari raya serta jihad.
2- Dari hadist Sunan At Tirmidzi :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
Berpuasa kalian pada hari berpuasa, berbukalah kalian pada hari raya, berkurbanlah kalian pada hari berkurban.
3- Pendapat para ulama mengenai hadist di atas :
وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ : إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الصَّوْمُ وَالْفِطْرُ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعِظَمِ النَّاسِ
Sebagian ulama memberikan penafsiran mengenai hadist ini, mereka berkata : Bahwa makna hadist ini adalah perintah untuk berpuasa dan berhari raya bersama dengan Al Jama'ah dan golongan mayoritas. 

a-  Al-‘Allamah As-Sindi rahimahullah berkata :
وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة
Dan makna dhahir dari perkara perkara ini (menentukan waktu puasa dan hari raya) tidak bolehnya ada campur tangan individu-individu dan tidak boleh bagi mereka untuk menetapkan keputusan sendiri, akan tetapi keputusannya diserahkan kepada pemimpin dan pemerintah, dan wajib bagi individu-individu untuk mengikuti keputusan pemimpin dan pemerintah.
وَقِيلَ فِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ يَقُولُ إِنَّ مَنْ عَرَفَ طُلُوعَ الْقَمَرِ بِتَقْدِيرِ حِسَابِ الْمَنَازِلِ جَازَ لَهُ أَنْ يَصُومَ بِهِ وَيُفْطِرَ دُونَ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ
Dan dikatakan bahwa dalam hadits ini ada bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa siapa yang mengetahui kemunculan bulan dengan perkiraan hisab (perhitungan) tempat-tempat bulan maka boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka tanpa diketahui orang lain.
وَقِيلَ إِنَّ الشَّاهِدَ الْوَاحِدَ إِذَا رَأَى الْهِلَالَ وَلَمْ يَحْكُمْ الْقَاضِي بِشَهَادَتِهِ أَنَّ هَذَا لَا يَكُونُ هَذَا صَوْمًا لَهُ كَمَا لَمْ يَكُنْ لِلنَّاسِ
Dan dikatakan bahwa satu orang saksi yang melihat hilal dan kesaksiannya tidak diakui oleh seorang hakim maka tidak boleh baginya berpuasa, sebagaimana tidak boleh juga bagi masyarakat umum.
وَعَلَى هَذَا فَإِذَا رَأَى أَحَد الْهِلَال وَرَدَّ الْإِمَام شَهَادَته يَنْبَغِي أَنْ لَا يَثْبُت فِي حَقّه شَيْء مِنْ هَذِهِ الْأُمُور وَيَجِب عَلَيْهِ أَنْ يَتْبَع الْجَمَاعَة فِي ذَلِكَ
Oleh karena itu, apabila seseorang melihat hilal, namun pemimpin menolak persaksiannya, maka sepatutnya ia tidak memutuskan apa-apa dalam perkara-perkara ini, dan wajib baginya untuk mengikuti keputusan pemerintah.
b- Imam Hasan Al- Bashory berkata:
وقال الحسن البصري – رحمه الله – أربع من أمر الإسلام إلى السلطان: الحكم والفيء والجهاد والجمعة.

Al Imam Hasan Al Bashri mengatakan : Ada 4 perkara yang harus ikut kepada pemerintah, pertama di dalam masalah hukum, pembagian harta fa'i, jihad dan shalat jum'at.

c- Beberapa hadist:
وعن ابن عمر رضي الله عنهما ، عن النبيِّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( عَلَى المَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ والطَّاعَةُ فِيمَا أحَبَّ وكَرِهَ ، إِلاَّ أنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيةٍ ، فَإذَا أُمِرَ بِمَعْصِيةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ )) متفقٌ عَلَيْهِ
Ibnu Umar Ra berkata bahwa Nabi Saw Bersabda : Seorang muslim wajib mendengar taat, pada pemerintahnya, dalam apa yang disenangi dan tidak si senangi, kecuali diperintah berbuat maksiat. Maka apabila diperintah makshiyat, maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib taat.HR. Bukhory dan Muslim.
صحيح مسلم - (ج 9 / ص 393(سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
Ibnu Umar Ra berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa yang melepas tangan dari taat, maka akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan tidak membawa hujjah. Dan barang siapa yang mati, sedang di lehernya tidak ada suatu baiat, maka dia mati dalam sebagaimana matinya orang jahiliyyah.HR. Muslim.

GPI, Purwasari, Karawang,27- April- 2016